KOMISI Pemilihan Umum (KPU) melarang komik politik untuk pemilih pemula berjudul putih abu-bu pemilu disosialisasikan ke sekolah. Pasalnya, komik tersebut mengampanyekan Nurul Arifin sebagai caleg Partai Golkar.

“Dia (Nurul Arifin) atau guru tidak bisa menyosialisasikan komik itu ke sekolah. Kalau itu dilakukan itu melanggar aturan kampanye karena komik itu memuat nurul sebagai caleg Partai Golkar,” kata anggota KPU Sri Nuryanti usai tampil sebagai pembicara pada acara peluncuran komik tersebut di Jakarta,  Rabu (19/11).

Tampil sebagai pembicara dalam peluncuran komik itu antara lain Nurul Arifin, Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemiluh untuk Rakyat (JPPR) Jeirry Sumampow.

UU No 10/2008 tentang Pemilu Pasal 84 ayat (1) huruf h menyebutkan pelaksana, peserta, dan petugas kampanye dilarang menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan.

“UU Pemilu melarang sekolah atau tempat pendidikan sebagai sarana berkampanye. Tapi kalau anak-anak sekolahnya yang pemilih pemula diajak ke luar bukan masuk ke sekolah lalu mereka diberi komik itu tidak masalah. Kalau bukunya dibawa siswa ke sekolah juga tidak masalah,” katanya.

Nuryanti mengatakan kalau Nurul Arifin, guru, atau pihak yang berkepentingan soal pemilu tidak terbukti menyebarkan komik ke sekolah, itu bukan pelanggaran. “Di sini perlu gurunya harus dikasih tahu bahwa berkampanye di sekolah dilarang,” katanya.

Nuryanti mengatakan dia mengapresiasi komik Nurul Arifin sebagai medium kampanye yang juga memberikan pendidikan politik. “Dia melibatkan pemilih pemula. Pada komik itu ada juga caleg yang visinya hidup adalah perbuatan. Nurul juga tidak vulgar menyatakan pilih lah saya. Komik ini juga memuat tanggal pemungutan suara Pemilu 9 April 2009,” katanya.

Jeirry Sumampow juga mengatakan bahwa komik Nurul Arifin tersebut tidak bisa jadi model alat sosialiasi ke sekolah-sekolah. “Komik ini kan mengampanyekan Nurul Arifin dan Partai Golkar jadi tidak tepat ini dijadikan sebagai materi sosialiasi di sekolah. Kalau untuk umum komik ini kreatif dan mendidik, nggak apa-apa,” katanya.

Nurul Arifin mengatakan dirinya siap merevisi komik yang diterbitkannya agar bisa digunakan sebagai alat sosialiasi di sekolah. “Kalau memang direvisi, termasuk gambar saya dihilangkan supaya bisa digunakan lebih universal dan di sekolah-sekolah saya siap merevisinya,” kata Nurul Arifin melalui sekretarisnya Sekar kepada wartawan Media Indonesia Kennorton Hutasoit di Jakarta, Rabu (19/11).