Oleh Kennorton Hutasoit
MATANYA cekung, badannya lemas, ruas-ruas tangan dan kakinya kurus. Marleni, itu nama bocah berusia 20 bulan itu. Ia penderita gizi buruk yang akhirnya meninggal, karena kondisi penyakitnya yang parah.
Marleni tinggal di gubuk kecil beratapkan rumbia di tepi pantai di desa Amahelate, Pulau Tello, Kecamatan Pulau-Pulau Batu, Kabupaten Nias Selatan (Nisel) Sumatera Utara (Sumut). Berdasarkan hasil diagnosa dokter Rumah Sakit Tello, bocah itu meninggal karena menderita penyakit gizi buruk.
“Kasus Marleni, ini salah satu kasus gizi buruk yang kami tangani. Penyakit ini banyak merenggut nyawa anak-anak di pulau ini. Sebenarnya ada upaya medis yang dapat menolong memperkecil angka kematian, tapi masyarakat kerap tak mau berobat medis,” kata Kepala Rumah Sakit Tello dokter Yulia Yustina Marampak kepada Media Indonesia di Tello, (26/11/2007)
Kisah kematian bocah dari pasangan Sipintar Gowasa dan S Wao, ini begitu memilukan. Januari 2007 lalu, dua orang staf Medical Assisten Program (MAP) Internasional Ade dan Eman mendatangi dan meminta Marleni agar dibawa berobat ke rumah sakit, tapi Gowasa ayahnya menolaknya. Justru Wao yang menurut membawa Marleni ke Rumah Sakit Tello. Ketika itu, Marleni sempat dirawat di Rumah Sakit selama dua minggu dan kondisinya sudah mulai membaik.
Enam bulan kemudian tepatnya Juni 2007, Marleni sakit dan sesak serta batuk, lalu dibawa ibunya lagi ke Rumah Sakit Tello. Sudah sempat dirawat, namun Gowasa memaksa membawa Marleni pulang ke rumah. “Karena ayahnya ngotot sekali, para perawat terpaksa melepaskan semua infuse dan peralatan medis dari badan Marleni, Marleni pun dibawa pulang ayahnya,” kata Yulia. Pada malam itu malam (29/6), badai dan hujan lebat menerpa rumah Marleni. Kondisi dingin memperburuk kesehatan Marleni, hingga akhirnya ia meregangkan nyawa esok paginya sekitar pukul 07.50 wib.
Yulia mengatakan masalah seperti kasus Marleni kerap mereka hadapi dalam menangani pasien anak di Pulau Tello. Akhir September 2007 lalu kasus serupa juga terjadi yakni seorang anak perempuan berumur 12 tahun yang menderita gizi buruk asal Pulau Pini juga dipaksa pihak keluarga pulang, padahal pengobatannya di Rumah Sakit Tello belum tuntas. “Keyakinan masyarakat di sini berobat medis masih rendah, padahal di sini banyak penderita penyakit gizi buruk dan tuberclosis (Tb) yang dapat disembuhkan secara medis. Dari hasil temuan selama dua tahun terakhir ini, dari 304 anak yang didata dengan usia 1 hingga 2 tahun sedikitnya 42 anak dinyatakan positif gizi buruk,” katanya.
Pola berobat masyarakat setempat cenderung mengkonsumsi obat ringan yang dijual di warung dan sebagian besar masih meyakini pengobatan tradisional. Sekalipun sudah ada Rumah Sakit Tello pada 15 Maret 2007, dengan fasilitas Poliklinik Umum Kesehatan Ibu dan Anak, terdiri dari ruang bersalin dan ruang rawat inap ibu, bayi dan anak, warga setempat masih enggan berobat ke sana.
“Masyarakat masih enggan berobat ke rumah sakit, barangkali mereka khawatir masalah biaya. Padahal tidak demikian, karena biaya rawat inap hanya berkisar Rp15 ribu per-hari, sudah termasuk tiga kali makan sehari,” ujar Yulia.
Rumah Sakit Tello yang ditangani 35 tenaga medis menyediakan poliklinik gigi, instalasi gizi serta konsultasi hipertensi, rawat jalan dan rawat inap sebanyak 37 bed ditambah 10 bed untuk balita, dan ruang UGD/ ER, Laboratorium, radiology, operation theater room (ruang operasi), Rawat Gigi (Dental Clinic), dan apotik.
Hasil penelitian MAP Internasional, anak di Pulau Tello tak pernah mendapat imunisasi, minimnya pemberian air susu ibu (asi) atau susu kepada anak, dan tidak tersedianya vitamin untuk balita. “Tidak ada pelayanan kesehatan anak dan ibu,” kata Koordinator MAP Internasional di Pulau Tello Dameria Tarigan.
Camat Pulau-Pulau Batu Hans Martin Wa’u mengatakan masyarakat enggan berobat medis, karena rendahnya pengetahuan tentang medis. “Masyarakat setempat masih lebih meyakini pengobatan tradisional. Selain masalah itu, masyarakat setempat juga kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan karena sulitnya transportasi dari pulau-pulau ke lokasi rumah sakit di Pulau Tello,” katanya.
Wakil Bupati Nisel Daniel Duha mengatakan masalah kesehatan ini menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nias Selatan. Kendalanya saat ini, sangat terbatasnya akses transportasi dari Teluk Dalam, ibu kota kabupaten ke kepulauan termasuk Kecamatan Pulau-Pulau Batu dan Kecamatan Hibala. “Sudah ada upaya untuk memperlancar akses transportasi dari Teluk Dalam, ibu kota kabupaten ke Kecamatan Pulau-Pulau Batu. Saat ini pengadaan kapal ferry Teluk Dalam-Tello dalam tahap perencanaan, begitu juga pembangunan jalan keliling di Pulau Tanah Masa sudah dirancang. Kalau akses transportasi lancar, masalah kesehatan dan gizi buruk ini mudah-mudahan dapat teratasi,” katanya.**

6 comments
Comments feed for this article
Februari 2, 2008 pada 10:07 am
Aciel
Sedih juga ngebaca berita tentang Tello, Saya pernah tinggal disana, It was a nice Place to stay, sayang transportasi belum memadai.
Thanks for the news
April 3, 2008 pada 5:52 pm
tomuariesta
“Pola berobat masyarakat setempat cenderung mengkonsumsi obat ringan yang dijual di warung dan sebagian besar masih meyakini pengobatan tradisional. Sekalipun sudah ada Rumah Sakit Tello pada 15 Maret 2007, dengan fasilitas Poliklinik Umum Kesehatan Ibu dan Anak, terdiri dari ruang bersalin dan ruang rawat inap ibu, bayi dan anak, warga setempat masih enggan berobat ke sana.”
bahasa mu ini pren… sampai merinding aku bacanya…
hanya satu kata untuk tulisan ini…
hanura… eh wiranto lagi ngadain sayembara mendengarkan rakyat miskin ataw apa itu….
kompas tgl 2/3 april 2008 ikuti sayembara aja.. mana tahu dapat 50 juta.. hee.hee
tapi hati-hati makelar KTP karena tulisan harus disertai KTP dan stempel pos….
gak ada salahnya dukung hanura.. ataw kasih KTP dukungan… eh salah lagi ya…
slamat mencoba…. jangan sampai tidak….
Februari 12, 2009 pada 7:30 am
markus wau
kepada yth,
saudaraku Kenorton hutasoit…
Pulau telllo merupakan penghasil ikan, udang, dlll yang mengandung kadar protein dan nilai gizi yang tinggi…jadi utk mencegah akn terjadinya pemberitaan gizi buruk, mungkin perlu adanya penyuluhan pengolahan makanan yang efektif bagi orang tua, saya melihat posyandu disana tidak berjalan, poliklinik desa yang dulu dibangun olh pemda utk setiap desa tdk berjalan, jarak kerumah sakit teloo sangat jauh dan transportasi disana kebanyakn jalan kaki sehingga masyarakt jarang berobat, apalagi konon katanya setiap kali berobat ke rumah sakit, obat yang diberikan kurang ampuh dalam mengatasi masalah penyakit yang di derit… kata yg pernah berobat, saya belum coba seperti apa obat dan pelayanannnya karena walaupun saya berasal dari pulau tello namun hanya 1 tahun sekali saya kepulau tello oleh karena selama 8 tahun saya di jawa dan sekarang dapat pekerjaan di pemberdayaan masyarakt bandung.
harapan saya kiranya semua pihak baik pemda, media, masyarakat dan para petugas medis dan dll dapat berpatisipasi dalam maslah ini. thank gbu
Mei 5, 2009 pada 7:22 am
roni laowo
sya ikut kasihan melihat keadaan sprti itu….nias ku…tello..manakah kekayaan bimi mu…jgn biarkan rakyat mu..menderita kelaparan….pulau kelapa limpah ruah….maju terus tello…
yaahowu
Juli 20, 2009 pada 6:06 am
sane laowo
saya ngarasa seadih ja,soalnya pulau tello yg kaya akan hasil laut nya and tanaman hijau kok bisa ngalami hal yg seperti itu…………..
September 2, 2009 pada 9:06 am
Simuk
Baga!
Namanya saja “niha mbanua”, ya pasti berobatnya ke dukun atau ahli pengobatan tradisional.
Ira amada salawa! Benahi dan beri penyuluhan dulu kepada masyarakat tentang manfaat kesehatan yang diberikan melalui medis, bahwa berobat ke dokter itu jauh lebih baik dibandingkan berobat ke dukun.
Nah, ini kok lain. Nampaknya yang disesali kok masyarakat, gak mau berobat. He wisa mane khomi dao!