SEBAGIAN besar ulos (kain) Batak punah, karena tak diproduksi lagi. Ulos Batak yang tak lagi diproduksi antara lain ulos raja, ulos ragi botik, ulos gobar, ulos saput (ulos yang digunakan pembungkus jenazah), dan ulos sibolang.
“Ulos merupakan heritage (warisan) budaya Batak. Kalau ulos ini punah dan tidak ada lagi yang memoroduksinya, maka Batak akan kehilangan ulos salah satu warisan dari nenek moyangnya,” kata perancang busana nasional Merdi Sihombing kepada Media Indonesia di Kantor Badan Pariwisata Daerah (Bawisda) Sumatera Utara (Sumut), Jl Diponegoro, Medan , Jumat (30/11).
Menurut Merdi jenis-jenis ulos yang tak diproduksi itu ialah jenis ulos Batak yang zaman dulu biasanya digunakan kalangan bangsawan. Ada juga ulos Batak yang zaman dulu digunakan sebagai pakaian sehari-hari, namun karena zaman sekarang sudah banyak pakaian tekstil ulos tersebut tak digunakan lagi. “Karena tak ada pengguna dan pasar penjualan ulos bangsawan dan ulos pakaian sehari-hari itu, akibatnya penenun tak lagi memoroduksinya,” kata Merdi.
Untuk mengetahui keberadaan ulos sebagai warisan Batak, Merdi melakukan survei ulos mulai dari Sipirok (Tapanuli Selatan); Tarutung, Muara, Meat (Tapanuli Utara); Panamean, Lagu Boti (Toba Samosir); dan Lumbang Suhisuhi, Mogang, Palipi (Samosir). “Penenun di daerah-daerah sentra produksi ulos itu saat ini hanya memoroduksi ulos yang lazim digunakan untuk adat antara lain sadum, ragi dup, songket Batak, dan ragi bolean. Jenis ulos Batak lainnya tidak mereka tenun lagi karena tidak laku di pasaran,” kata Merdi.
Ramah Lingkungan
Merdi berupaya memoroduksi jenis-jenis ulos Batak yang saat ini sudah langka. Ia membantu para penenun di daerah-daerah sentra produksi ulos Batak dengan memberikan bahan tenun dan perlatan yang ramah lingkungan. “Bahan-bahan seperti benang dan pewarna yang saya berikan tidak mengandung zat kimia berbahaya. Semua bahan benang dan zat pewarna itu alami dari tumbuh-tumbuhan yang tidak membahayakan. Semuanya frendly environmental,” kata Merdi.
Hasil tenunan jenis-jenis ulos Batak itu nantinya, ujar Merdi, akan dijadikan bahan fashion. “Tentu jenis ulos yang akan digunakan untuk fashion akan dipilih. Jenis yang cocok jenis ulos yang pada zaman dulu diabithon (dipakai) untuk sehari-hari, jadi bukan ulos yang disakralkan pada acara-acara adat. Motif dan corak ulos Batak itu tetap, hanya ukuran dan layout yang disesuaikan untuk kepentingan fashion,” katanya.
Produksi ulos Batak untuk keperluan fashion ini nantinya dapat meningkatkan pendapatan penenun. “Kalau selama ini harga ulos berkualitas baik hanya Rp300 ribu, nantinya setelah digunakan untuk fashion, harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Saya optimis ulos Batak bisa mewarnai fashion nasional dan internasional, karena tren fashion sekarang ini melirik budaya-budaya negara ketiga (berkembang) dan warisan pakaian tradisional,” katanya.**