PEREMPUAN Nias Maria Zebua, 21, menawarkan cumi berukuran hampir 1
meter kepada Media Indonesia di Jalan Diponegoro, , Kabupaten
Nias, Sumatera Utara (Sumut), pekan lalu.
Zebua menjajakan ikan segar yang dipajangnya di sebGunungsitoliuah warung ukuran
empat meter bujur sangkar beratap rumbia tanpa dinding di pinggir Jalan
Diponegoro.
Ikan yang dijajakan antara lain cumi, tuna, tongkol, kakap merah, dan
ikan gembung. Ikan-ikan besar digantungkan dan yang berukuran kecil
digelar di atas meja.
Ikan itu dijual dengan keadaan begitu segar dan relatif murah. Harganya
bisa lebih murah 30-50persen daripada harga ikan di daerah lain. Ada
yang dijual per ekor dan ada juga yang dijual per tumpuk. Ikan cumi
ukuran sekitar 70 cm panjangnya dan 40 cm lebarnya atau sekitar 12 kg
beratnya hanya dijual seharga Rp75 ribu per ekor. Ikan merah dengan berat
sekitar 2 kg juga hanya dihargai Rp25 ribu per ekor. Di antara ikan yang
dijajakan itu, ikan tuna harganya sedikit lebih mahal, tapi relatif
lebih murah dibandingkan dengan harga ikan tuna di daerah lain. Seekor
ikan tuna dengan berat sekitar 3 kg di Nias hanya sekitar Rp40 ribu. Jika
di daerah lain itu bisa mencapai Rp60 ribu per ekor.
Zebua berjualan ikan setiap sore sama seperti puluhan pedagang ikan
lainnya di sepanjang Jalan Diponegoro. Ikan yang mereka jual hasil
tangkapan para nelayan yang mendarat pada sore hari. Alat tangkap para
nelayan itu sederhana dan umumnya tradisional yang hanya mampu melaut tak
jauh dari garis pantai Pulau Nias.
Potensi
Bupati Nias Binahati B Baeha mengatakan laut Pulau Nias memiliki
potensi perikanan yang cukup tinggi. Jumlah tangkapan nelayan di Puau Nias
jauh lebih kecil dibandingkan dengan potensi ikan yang ada. “Sampai saat
ini nelayan luar Pulau Nias masih lebih dominan melakukan penangkapan
ikan di laut Pulau Nias, karena mereka menggunakan alat tangkap yang
canggih. Itu tak mungkin disaingi nelayan Nias dengan menggunakan alat
tangkap tradisional dan alat tangkap berkapasitas sangat terbatas,”
katanya.
Dinas Perikanan dan Kelautan Pemprov Sumut pada 2005 mencatat produksi
ikan penangkapan di laut di Pulau Nias sekitar 16.645 ton yakni Nias
(5.707 ton) dan Nias Selatan (10.938 ton). Nilai produksinya yaitu Nias
Rp17,6 miliar dan Nias Selatan Rp34,1 miliar. Total dua kabupaten itu
Rp51,7 miliar pada 2005.
“Jumlah tangkapan itu jauh lebih kecil daripada potensi perikanan laut
di perairan Pulau Nias yang bisa mencapai ratusan ton per tahun,” kata
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sumut Yosep Siswanto kepada Media
Indonesia di Medan, Jumat lalu.
Hasil tangkapan ikan laut di Pulau Nias masih minim karena terbatasnya
alat tangkap. Pada 2005, jumlah nelayan di Pulau Nias (Kabupaten Nias
dan Kabupaten Nias Selatan) sebanyak 6.819 orang nelayan yakni Nias
(2.318) dan Nias Selatan (4.501). Sekitar 66.6 persen di antaranya nelayan
tradisional yakni nelayan tanpa perahu Nias (765) Nias Selatan (475)
dan nelayan pengguna perahu tanpa motor yakni Nias (1.955) Nias Selatan
(2.561). Selebihnya nelayan yang menggunakan perahu motor tempel Nias
(404) Nias Selatan (171), dan kapal motor dengan ukuran 5-10 GT sebanyak
Nias (169) Nias Selatan (127).
Selama ini tak ada kapal berkapasitas di atas 30 GT yang dioperasikan
di Pulau Nias. Rencananya tahun ini baru ada dua kapal berkapasitas 30
GT yang akan dioperasikan di Pulau Telo (Nias Selatan). Dua kapal itu
milik Pemprov Sumut bantuan APBN yang pengoperasiannya dikerjasamakan
dengan PT Cahaya Ocean Indonesia.
“Sebenarnya dua kapal ini sudah diserahkan kepada koperasi nelayan
Pulau Telo pada 2006, tapi karena kemampuan pihak nelayan tak memadai
mengoperasikannya akhirnya dikerjasamakan dengan perusahaan swasta. Kalau
pengoperasian kapal ini sukses, pada 2008 akan dilibatkan kembali KUD
nelayan Pulau Telo dalam pengoperasiannya. Ini juga upaya membuktikan
kepada ivestor bahwa usaha penangkapan ikan di Pulau Nias memiliki
potensi,” kata Yosep.
Yosep mengatakan pihaknya mempermudah penambahan jumlah kapal di
Perairan Pulau Nias. “Pada 2006 kami menerbitkan izin kapal penangkap ikan di
Pulau Nias sebanyak 23 izin dengan kapasitas 10-30 GT. Khusus kapal
kapasitas 5-30 GT pada 2006 ini mencapai 661 unit. Itu masih bisa
ditambah dua kali lipat untuk memaksimalkan penangkapan ikan di Pulau Nias,”
katanya.
Jumlah kapal kapasitas 5GT-50GT sebanyak 14.176 unit di Sumut. Hanya
1.695 unit di pantai barat termasuk di antaranya 661 unit kapal di Nias
dan Nias Selatan. Selebihnya kapal itu beroperasi di Pantai Timur,
padahal Pantai Barat lebih luas daripada pantai Timur.
Wakil Bupati Nisel Daniel Duha mengatakan untuk mendorong peningkatan
kapal di Pulau Nias perlu kemudahan bagi investor dalam mengurus izin.
“Sampai saat ini kewenangan Pemkab hanya untuk pengurusan izin kapal
kapasitas lebih kecil dari 5GT. Untuk kapasitas 5-30 itu kewenangan
provinsi dan lebih besar dari 30 GT kewenangan pemerintah pusat. Ini perlu
ditinjau lagi, sebab kalau Pemkab hanya memiliki kewenangan 5GT, Pemkab
tak akan bisa mendorong investor baru, karena kapal yang diharapkan
bertambah itu kapal berkpasitas di atas 5 GT,” katanya.
Belum Diolah
Wakil Ketua Apindo Nias Jhonson Hutagalung mengatakan hasil ikan
tangkapan perlu diolah untuk pengawetan sekaligus meningkatkan nilai tambah.
Sampai saat ini sebanyak 11.836 ton dari total tangkapan ikan di
Pulau Nias itu dikonsumsi segar dan hanya sebagian kecil yang diolah dengan
pengasinan. “Salah satu yang harus dikembangkan pengolahan cumi yang
bisa dikemas menjadin produk khas Nias. Saya pikir cumi berukuran besar
menjadi ciri khas Nias,” katanya.
Ketua Komisi B DPRD Sumut termasuk membidangi Perikanan dan Kelautan,
Ahmad Hosen Hutagalung mengatakan pemerintah harus serius menangani
penangkapan ikan di perairan Pulau Nias, Pantai Barat. “Penambahan kapal
boleh dilakukan untuk memaksimalkan hasil tangkapan ikan, tapi pemerintah
harus menawasi penangkapan ikan sesuai dengan hukum yang berlaku agar
tak terjadi kerusakan kekayaan laut, jangan sampai terjadi seperti di
Bagan Siapiapi (Riau) yang hanya tinggal kenangan karena maraknya
praktik pemboman ikan dan penggunaan pukat yang merusak lingkungan,” kata
anggota dewan dari PPP asal Pantai Barat Sumut. **

18 comments
Comments feed for this article
November 6, 2007 pada 2:09 pm
ranto
saya ingin mendapatkan informasi ikan tuna di Nias, saya ingin data lokasi dan keadaan Pem
kab nias.
November 7, 2007 pada 12:59 pm
kennortonhs
Data itu sebagian ada di kantor saya. Tapi yang lebih lengkap ada di Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumut di Jl Sei Batu Gingging, Medan. Kepala Dinas Yosep.
Desember 7, 2007 pada 5:44 am
Bpk.Ali
sy perlu informasi suplier ikan tuna
kwalitas export dlm jumlah besar
mohon segera informasi.terima kasih.
Desember 7, 2007 pada 1:19 pm
kennortonhs
bapak tinggal di mana. Baru-baru ini saya dari pulau Pulau-pulau Batu. Di Nias dan Nias selatan termasuk di Pulau Tello ada kontak kita, bapak bisa kita hubungkan. trims
Desember 26, 2007 pada 5:24 pm
ranto
Apakah mungkin kalau saya bawa seorg investor u mengolah ikan tuna di Nias ? saya dengan Pembkap disana kurang open minded, apa iya?
Mohon kalau bisa ada data disini siapa tahu kita bisa garap demi kemajuan Sumatera Utara
Ranto
Desember 26, 2007 pada 7:08 pm
Nias Barat Siapa Yang Punya ?
[...] http://kennortonhs.wordpress.com/2007/07/11/potensi-perikanan-pulau-nias-yang-belum-dikembangkan/ [...]
Februari 1, 2008 pada 4:20 pm
ada
tau ah
April 16, 2008 pada 12:14 pm
maju.simanjuntak
kenapa pulau nias tidak dikembangkan,pulau niaskan indah
banyak binatang langka
April 21, 2008 pada 6:35 am
Desni
Saya mahasiswa perikanan UNDIP. saya ingin mengkaji produksi perikanan di nias, dimana saya bisa memperoleh datanya dan apakah data yang di DKP medan benar2 akurat?
Terimakasih
April 23, 2008 pada 4:15 am
idealis halawa
yach kita kembangkan, agar apa yang kita kejar tercapai
November 4, 2008 pada 7:17 am
Lius Giawa
Yaahowu Fefu.
Sangat senang mendengar nama NIAS dimana-mana, hanya sangat disayangkan akan pendidikan masyarakat yang selama ini sangat terbelakang.
Sebuah harapan selalu ada di hati setiap insan masyarakat NIAS tapi itu tinggal mimpi jika pemerintah daerah tidak mempunyai impian yang sama.
Mari kita maju bersama dengan cinta dan harapan dan motto yang kita punya warga Nias “AOHA NILULUI WAHEA AOHA NILULUI WAOSO ALISI TAFADAYA-DAYA HULU TAFAWOLO-WOLO” … Sohagolo “Ya’ahowu”
November 4, 2008 pada 7:28 am
Lius Giawa
TANO NIHA BANUA SOMASIDO TANO SITUMBU YAO FONA. . .
Lagu ini sangat indah dan menjadi pelipur lara disaat kami mencari ilmu di rantau orang. Betapa tidak, pemerintah daerah tidak pernah kami kenal dan kami juga tidak pernah tahu akan dukungan mereka terhadap kami. Keadaan seperti ini membuat beberapa anak NIAS yang telah menyelesaikan pendidikan enggan kembali ke daerah tetapi memilih mengabdi di tempat lain.
Berharap kedepan pemerintah daerah ada kepedulian terhadap anak-anak NIAS yang yang sedang meneruskan pendidikan.
Terima kasih untuk masyarakat Nias.
Dari Mahasiswa Pemerintahan STPMD APMD Yogyakarta.
untukmu_sahabat@yahoo.com
November 6, 2008 pada 1:16 am
Analius Giawa
Melihat akan Pulau NIAS yang garis pantainya
sangat panjang, maka selayaknya kita bisa menarik
kesimpulan bahwa disana ada banyak sumber yang bisa
membuat masyarakat NIAS memiliki kehidupan ekonomi
yang layak.Sungguh kekayaan yang besar tetapi
sangat disayangkan karena semua itu tidak bisa
dimanfaatkan dengan baik. Oleh karena itu perlu
pemerintah daerah mengelolah semua ini dengan profesional
dan untuk kepentingan masyarakat.
Kita semua berharap demikian. . .terima kasih
Yaahowu.
untukmu_sahabat@yahoo.com
November 20, 2008 pada 1:38 pm
selsi
ya`ahowu ononiha…!!
mnurut saya….
d nias tersebut perlu d kelola SDA nya dgn maksimal..
mkasii..
Desember 12, 2008 pada 4:45 am
Agus.Ndruru
saya putra dari kab.NISEL-Togizita sangat saya dukung untuk pulau nias akan maju dalam hal berani untuk menangkap ikan cumi.da….sukses situs YAAHOWU ONO NIHA
Desember 19, 2008 pada 7:24 am
Arafas
Tolong informasi yang akurat tentang lokasi mancing yang idel disekitar Kec. Sirombu dan Hinako.
Juni 14, 2009 pada 7:56 am
donartha
ada lowongan ga di Nias bwt perikanan???
kalo ada kasi kabar ya.
thankz
November 19, 2009 pada 12:56 pm
Yupiter zalukhu
kamis 19 nov 09
potensi kelautan nias sebenarnya sangat besar cuman penguasa lupa akan potensi itu karena yg dipikirkan bagaimana cara melakukan korupsi supaya tidak terdeteksi.marilah kita berpikir kedepan supaya apa yg kita lakukan bermanfaat tuhan pasti akan memberkati kita