Etos Kepahlawanan Kian Pudar

Posted on Juni 18, 2007. Filed under: Budaya, Pendidikan, Uncategorized |

HUMBANG HASUNDUTAN (@ken): Kian memudarnya etos kepahlawanan merupakan salah satu tantangan yang dihadapi dalam kehidupan berbangsa di Tanah Air. Padahal etos kepahlawanan itu sangat penting dalam pembangunan untuk mencapai cita-cita bangsa dan negara RI.

Itu dikatakan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya yang dibacakan Menteri Koordiantor Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Widodo AS pada peringatan 100 tahun gugurnya pahlawan nasional Sisingamangaraja XII di Bakkara, Kecamatan Bakti Raja, Kabupatan Humbang Hasundutan, Sumatera Utara (Sumut), kemarin.

Yudhoyono mengatakan pahlawan nasional Sisingamangaraja XII mewariskan nilai dan etos yang patut diteladani dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Beliau mewariskan etos kepahlawanan yakni etos memegang teguh prinsip yang kuat yang tidak mau dijajah bangsa asing. Beliau berpesan agar kita memegang prinsip utama menjaga harkat dan martabat, serta jati diri bangsa. Etos kepahlawanan Sisingamangaraja XII yang harus dibangkitkan kembali antara lain etos kerja keras, kejujuran, dan rela berkorban demi bangsa,” katanya.

Acara peringatan 100 tahun gugurnya Sisingamangaraja di Bakkara dimeriahkan dengan berbagai rangkaian acara antara lain upacara adat Batak, pertunjukan seni, dan musik instrumental Batak. Hadir dalam acara itu antara lain mantan Ketua DPR RI Akbar Tandjung selaku Ketua Panitia Nasional Peringatan 100 tahun gugurnya Sisingamangaraja XII, Gubernur Sumut Rudolf M Pardede, Anggota DPR RI Syarfei Hutauruk selaku Ketua Harian, Staf Ahli Presiden RI TB Silalahi, dan Bupati Humbang Hasundutan Makdin Sihombing.

“Sisingamangaraja XII memperjuangan kemerdekaan dan kebebasan dari penjajahan. Relevansinya hari ini, kita dan seluruh penyelenggara negara harus berjuang agar bebas dari kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan,” kata Akbar Tandjung.

Secara terpisah, Pusat Latihan Opera Batak (Plot) pimpinan Thomson HS menggelar pertunjukan opera batak bertajuk Srikandi Boru Lopian di lapangan Sisingamangaraja Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sabtu malam. Opera itu diselingi pembacaan puisi oleh penyair terkemuka di dunia Sitor Situmorang dengan sajak bertajuk pertempuran terakhir Sisingamangaraja XII.

Peringatan 100 tahun gugurnya Sisingamangaraja XII diselenggarakan berbagai panitia mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga tingkat nasional. Mereka menggelar napak tilas pertempuran Sisingamangaraja XII, perenungan suci di makam Sisingamangaraja di Soposurung Balige, dan opera keliling.**

Make a Comment

Make a Comment: ( 2 so far )

blockquote and a tags work here.

2 Responses to “Etos Kepahlawanan Kian Pudar”

RSS Feed for Kennorton@Baca Tulis Comments RSS Feed

Falsafah Orang Batak Tidak Sesuai Ajaran Agama:

MENYEMBAH KEPADA SIMULAJADINABOLON

Sudah sangat pasti bahwa Pesta Adat Batak megkuduskan si Mulajadinabolon dan Debata yang tiga akan tetapi sebaliknya melukai hati Yesus Kristus Tuhan. Sekarang bagaimana si Mulajadinabolon melalui manusia melukai hati Tuhan Yesus Kristus ? Seperti yang di perintahkan oleh si Mulajadinabolon mengatakan: ”Somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu” ! Kalau Somba tidak bisa hanya kata-kata, melainkan harus ada Pelean atau sisombahononton kepada Napinele itu yang dikatakan: ”namargoar” atau ”juhut/jagal nabalging-balging”. Juhut nabalging-balging ini yang di katakan ”namargoar”, atau ”simargoar”, padahal barang sudah mati tidak bisa juhut itu dikatakan namargoar atau simargoar. Jadi sebenarnya si Mulajadinabolon itu mengangkat/membuat dirinya ”namargoar”, tidak benar jagal nabalging-balging itu namargoar. Seperti yang telah kuterangkan yang tadi tidak mungkin barang yang sudah mati yang menjadi satu pribadi/oknum, atau namargoar. Akan tetapi si Mulajadinabolon yang di tanah Batak merupakan satu pribadi, satu oknum, bisa dia membuat namanya asalkan ada yang mau memanggilnya, manggoari. Bisa dia kita lihat dari kemuliaan maupun kesohoran namanya ”juhut nabalging-balging i” sama orang Batak. Pesta apapun itu harus ada jagal nabalging-balging itu, tidak bisa tidak ada harus ada. Kalau tidak ada tidak Maradat. Jadi tiap hari itu di panggil-panggil, beraneka ragam dibuat nama di panggil-panggil orang itu. Tidak tahu orang itu bahwa yang di sembah adalah Iblis. Iblis yang dia kehendaki dan di dikuduskan melakukan itu semua jadi si Mulajadinabolon yang di panggil-panggil di situ.

Sekarang kita selidiki atau di Diselidiki dari Persepsi Upacara, Diselidiki dari Persepsi Goar-Goar, Diselidiki Dari Persepsi Hata Naruar Dohot Gapgap berikut dari segi pangorbanan bagaimana dibikin orang menyembah atau mengkehendaki si Mulajadinabolon atau melukai hati Tuhan kita, melalui jagal nabalging-balging i. Kalau sudah kita selidiki nanti dari beberapa persepsi menjadi bertambah jelas kita mengetahui si Mulajadinabolon betul-betul bahwa dia pencuri ulung dan pemunah di tengah-tengah kekeristenan kita.

A. Diselidiki dari Persepsi Upacara

Kita melihat dari pesta mangadati nadenggan dialap bagaimana di buat orang itu menyembah berikut mengiakan kehendak si Mulajadinabolon pada saat penyapaian pelean itulah juhut nabalging-balging itu. Sesudah siap semua mau makanlah para tetamu, harus dipelehon akan tetapi dikatakan penyampaian juhut nabalging-balging itu. Seperti ini penyempaian pelean tersebut: ”harus membentuk satu lingkaran semua yang punya hajat dari yang punya anak laki-laki dan yang punya anak perempuan untuk mamelehon dengan menerima pelean itu. Harus dipegang yang mamelehon itu yang punya anak laki berikut yang punya anak perempuan yang menerima yaitu topi dari talam/sambung tempat juhut nabalging-balging itu”. Sesudah semua pegang topi talam tersebut mulailah dikatakan kata-kata jampi-jampi penyampain sajen itu seperti ini dikatakan:
”Godang sibutong-butong otik sipir ni tondi, sai parmurnasmai tu pamatangmuna, saudara tu bohi, sipasindak panaili mai, sipalomak imbulu dohot sipaneang holi-holi, sititi ma sihompa golang-golang pangarahutna, tung sosadiape nahubahen hami on sai godangma pinasuna sai manumpak ma sahalamuna rajanami, manuai tondimuna”, jala sai mamasu-masu ma ompunta debata, sai…………….dohot satorusna.

Kami anak-anak orang Batak sangat meminta tolong kepada Amang / Inang supaya ada Repormasi budaya Batak Toba dengan Total karena Perkeliruan yang di lakukan oleh Missionaris yang terdahulu terhadap ajaran yang benar sesuai ajaran Alkitab maka sangat mengecewakan generasi penerus Bangsa ajaran yang terdahulu, oleh karena itu. Jadi tung mansai porlu do natua-tua ni halak batak instropeksi, mamodai, godang mangajari gellengna/generasi penerus tu natama asa marsaringar muse goar ni Tuhan Yesus Kristus di huta Tapian Nauli songon di mulanai. Mengapa ? Karena musuh yang tidak tampak, Iblis si Mulajadinabolon yang bekerja keras membuat orang Batak gagal secara moral. Maka dari buku nabadia i selanjutnya menuntun supaya kita orang Batak menemukan jalan yang lurus yang di ingini oleh Tuhan Yesus Kristus karena Tiket kesorga sudah disiapkan bagi yang mau ikut tidak ada paksaan.
Mauliate Amang Sae Nababan, Kami bisa, karena ajaranmu, sai ganjang ma umurmu pairing-iring angka pahoppumi, selalu sehat dengan perlindungan nabadia i tongtong.

Sian Ahu Anakmu: Ir. Saut Simanjuntak.

dari segi etimologisnya, mulajadi nabolon itu dapat berati tuhan pencipta langit dan bumi. namun mungkin saudara saut lebih menangkap arti harfiahnya. saya tidak kaitan komentar saudara atas mulajadi nabolon dengan tulisan etos kepahlawan yang kian pudar. dasar berpikir saudara boleh saja teologis. tapi dasar kebudayaan batak tidak ditentukan oleh munculnya teologi di barat. misalnya kenapa yesus kristus tidak langsung diturunkan di tanah batak, kecuali m diawali untuk orang jahudi? saya teringat pernyataan karl bart yang mengatakan: siapa yang mencintai jesus akan mencintai orang jahudi. sifat pernyataan itu dapat diasosiasikan sebagai indikasi kultur superioritas kejahudian; maka semua orang batak terkadang bertindak seperti jahudi.
saya yakin kalau ide kemunculan teologis atas jesus didasarkan juga kepada situasi kebudayaan. satu teks penting di dalam bibel akan peringatan atas tubuh kristus yang diwujudkan dalam rupa roti dan anggur, sangat bersifat kultur. “inilah tubuh, makanlah. dan inilah darahku, minumlah.” demikian kira-kira redaksi kalimat ketika para umat menerima simbol tubuh dan darah itu melalui rupa roti dan anggur. lalu apa maksudnya? memang jesuslah kurban terakhir secara simbolis dalam peradaban manusia yang kanibalis atau mungkin pemangsa hewan-hewan ciptaan lainnya. “homo homini lupus,” demikian sebelumnya thomas hobbes menggambarkan situasi manusia yang saling memangsa.. maka datanglah jesus yang siap menjadi korban terakhir untuk semua itu. tapi, apakah orang batak semakin bersih dan suci setelah menjadi kristen? akar kekristenan tentu satu hal lain dibandingkan dengan akar kebatakan. kapan keduanya bertemu, hanya tuhan yang tahu. siapapun penamaan atas tuhan itu; jeshua, jesus, atau dengan sebutan lain dari kulut-kultur yang berbeda di dunia. horas!


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...