Berawal dari Kegemaran Membaca

Posted on Mei 17, 2007. Filed under: Profil, Uncategorized |

J Anto, Direktur KIPPAS

MEMBACA adalah sebuah kegiatan wajib bagi J Anto (43 tahun), Direktur Eksekutif Kajian Informasi Pendidikan dan Penerbitan Sumatera (KIPPAS). Ia memang sudah gemar membaca sejak kecil. Baginya membaca adalah jalan untuk memperoleh segala informasi.

Terlahir dari sebuah keluarga sederhana, membuat Anto kecil harus memendam keingintahuannya lebih banyak terhadap informasi pada waktu itu. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan kedua orangtuanya untuk membelikan buku bacaan.

“Saya dulu tinggal di sebuah desa kecil di daerah Jawa Tengah, tepatnya di Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas. Kondisi keluarga saya termasuk sederhana. Jangankan untuk membeli buku bacaan, untuk biaya makan sehari-hari saja kami harus banting tulang,” kenang Anto.

Sedikit demi sedikit, ia mencoba mengumpulkan uang sendiri. Kemudian mencari biaya untuk menyewa buku bacaan di sebuah kios sewa buku di desanya.

“Saya suka mengumpulkan uang untuk menyewa buku bacaan, terutama buku komik seperti Jaka Sembung hingga Gundala Putra Petir. Banyak yang saya dapat dari membaca komik-komik itu, terutama mengenai jiwa nasionalisme,” paparnya.

Menginjak remaja, selain membaca, Anto mulai aktif menulis. Bahkan ia diserahi tanggung jawab mengurus koran dinding di sekolahnya. Berawal dari sinilah, ia mulai menulis di berbagai suratkabar dan majalah. Ternyata dari hasil menulis ini, ia bisa mencari penghasilan untuk kebutuhannya sendiri.

Setelah menamatkan sekolah, Anto muda melanjutkan kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Di bangku kuliah, ia bergabung dalam berbagai organisasi mahasiswa. Bahkan ia dikenal sebagai aktivis yang sangat respek terhadap permasalahan sosial.

Keaktifannya sebagai aktivis, harus dibayar mahal. Pada sekitar tahun 1990-an, tanpa sebab musabab ia sempat beberapa kali diteror orang tak dikenal. “Karena terlalu kritis, saya sering mendapat ancaman dari orang yang tidak saya kenal,” ungkap bapak tiga anak itu saat ditemui Global.

Kemudian Anto berkisah, ia tidak menyangka jika pada akhirnya harus menjadi bulan-bulanan aparat. Berawal dari sebuah kalender bergambar pemberontakan para petani yang dikirim salah satu LSM. Karena melihat gambarnya bagus, kemudian ia memajangnya.

Petaka akhirnya terjadi, ketika ada orang yang melihat kalender tersebut langsung melaporkannya ke polisi. Anto kemudian ditangkap, alasannya gambar yang ada di kalender tersebut menyinggung pemerintahan yang sedang berkuasa saat itu.

“Permasalahan itu sebenarnya ada kaitannya dengan politik, karena kebetulan waktu itu sedang berlangsung Pemilu. Kasusnya sempat didiamkan, namun pada tahun 1993, permasalahan ini kembali disinggung. Akibatnya, saya harus mencari jalan ke luar dari permasalahan ini. Kebetulan ada kawan yang tinggal di Pematangsiantar. Saya kemudian pergi ke sana untuk berlindung,” papar mantan wartawan Majalah Tiara dan D&R ini.

Tiga tahun di Siantar, Anto pindah ke Medan. Di kota ini ia kembali aktif menulis di berbagai media massa, baik dalam bentuk kolom ataupun artikel.

Akhir tahun 1998 menjadi momen kebebasan bagi Anto. Pasalnya, era reformasi telah membawanya ke arah kebebasan dalam mengeluarkan pendapat. Bayang-bayang kekuasaan Orde Baru mulai bisa terlupakan.

Saat ini ia aktif menulis buku biografi tokoh-tokoh asal Sumatera Utara serta buku-buku yang berkaitan dengan media. “Sebenarnya Sumatera Utara memiliki potensi informasi yang cukup kaya. Berpijak dari situlah saya ingin membuatnya menjadi tulisan-tulisan,” ungkapnya kepada Global. Tri Yuwono >> Global | Medan

Make a Comment

Make a Comment: ( None so far )

blockquote and a tags work here.

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...