Perlu Jurnalistik untuk Aktivis NGO
AKTIVIS NGO
NON GOVERNMENT ORGANIZATION (NGO) dalam bahasa Indonesia disebut organisasi non pemerintah (ornop). Di Indonesia Ornop juga dikenal dengan LSM. Namun penggunaan istilah LSM tidak diterima sebagian kalangan aktivis NGO. Alasannya, sejumlah organisasi penguasa, organisasi bentukan penguasa, dan organiasi perpanjangan tangan penguasa menamakan dirinya LSM.
Pengamatan penulis di Sumatera Utara (Sumut) Ornop dapat digolongkan dalam dua kelompok. Pertama, kelompok Ornop yang bersikap tegas sebagai oposan terhadap penguasa. Kedua, kelompok bentukan penguasa atau kelompok yang berkompromi dengan penguasa. Lembaga-lembaga yang tergolong dalam kelompok kedua ini lebih dikenal dengan nama LSM plat merah.
Penulis memokuskan tulisan ini pada lembaga-lembaga yang termasuk Ornop (lembaga oposan terhadap penguasa). Tak bisa dimungkiri dalam buku-buku tentang Ornop juga menyebutkan LSM. Menurut Penulis LSM yang disebut dalam buku tersebut memiliki pengertian yang sama dengan Ornop.
Penulis sering berkomunikasi dengan pihak Ornop yang ada di Sumut. Walau masih tergolong baru kenal dengan para pelaku Ornop atau lebih umum dikenal dengan aktivis, namun paling tidak penulis sudah berdiskusi tentang Ornop dan apa yang dilakukan aktivis Ornop.
Hampir semua lembaga Ornop di Sumut memiliki divisi advokasi dan informasi. Sebagian Ornop membagi divisi advokasi menjadi divisi pengorganisasian dan kampanye. Selalu ada divisi advokasi. Divisi ini erat kaitannya dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan Ornop. Ornop yang melakukan pengorganisasian seperti Kelompok Pelita Sejahtera (KPS) memiliki divisi pengorganisasian. Ada juga lembaga yang fokus pada kampanye seperti Wahana Lingkungan Hidup (Walhi).
Advokasi merupakan proses perubahan sosial. Berdasarkan diskusi-diskusi penulis dengan sejumlah aktivis Ornop, advokasi meliputi tiga hal yakni pengorganisasian, kampanye, dan perubahan.
Advokasi kelihatan sederhana, namun dalam praktiknya kompleks seiring dengan realitas sosial yang selalu dinamis. Sebelum melakukan advokasi, aktivis Ornop harus mampu mengenali realitas sosial. Dalam realitas sosial selalu ada fokus perhatian yang menjadi basis massa.
Untuk menentukan atau memilih basis massa yang akan menjadi dampingan Ornop harus dilakukan assessment (mencakup peninjauan pendahuluan, pengidentifikasian persoalan yang menyangkut kepentingan publik, dan klasifikasi persoalan). Ketika melakukan tahapan assessment aktivis harus menemukan dan merangkai fakta realitas sosial menjadi isu kepentingan publik. Isu itu dapat dijadikan bahan diskusi-diskusi dengan anggota basis sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas antar-anggota basis. Isu kepentingan publik ini menjadi isu bersama dan menjadi perekat anggota basis membentuk kelompok.
Setelah terbentuk kelompok-kelompok kecil (sel), basis dapat diperkuat dengan pengorganisasian. Muara dari penguatan basis dan pengorganisasian ialah kampanye. Kampanye merupakan upaya untuk mengungkap fakta realitas sosial yang dapat mempengaruhi kebijakan- penguasa. Strategi dari kampanye antara lain publikasi melalui media meanstream (media umum baik cetak maupun elektronik) atau media alternatif internal Ornop.
JURNALIS(ME)
AKTIVIS Ornop setiap saat berhadapan dengan ralitas sosial. Mulai dari assessment, pengorganisasian, hingga kampanye, seorang aktivis berkomunikasi dengan basis massa. Bahkan, aktivis yang dijuluki sang organizer bergabung dan hidup bersama dengan basis massa. Kedekatan dengan realitas sosial itu memberi peluang bagi aktivis untuk mengenali fakta-fakta realitas sosial yang menyangkut kepentingan publik yang dapat dijadikan berita.
Tak dapat dimungkiri sang aktivis tersebut banyak mengetahui seluk beluk kehidupan basis massa yang didampinginya. Ia bisa menceritakan hampir semua persoalan kehidupan yang dihadapi basis massa tersebut antara lain persoalan pangan, papan, dan pakaian. Namun pengenalan sang aktivis terhadap persoalan basis massa terlalu generalis. Umumnya, persoalan yang diketahui aktivis tak fokus. Tak ada persoalan yang diketahuinya secara mendalam. Sehingga fakta-fakta dan informasi yang dimiliki sang aktivis tersebut tak cukup untuk dijadikan berita.
Laporan sang aktivis erat kaitannya dengan pengetahuan aktivis tersebut terhadap persoalan dan realitas sosial yang dihadapinya. Di era sekarang ini aktivis Ornop sudah terbiasa membuat laporan kegiatan yang telah dilakukannya kepada kantornya. Berdasarkan pengalaman penulis dalam mengelola sejumlah media internal di Medan laporan-laporan aktivis seringkali tak dapat dijadikan berita untuk media internal apalagi untuk media meanstream.
Laporan yang disampaikan aktivis sangat jarang menggambarkan situasi dan realitas sosial secara mendalam. Ketika melaporkan kodisi kehidupan masyarakat desa, aktivis tak bisa memaparkan kondisi masyarakat secara detil. Aktivis sering membuat kesimpulan tentang kondisi masyarakat tanpa mewawancarai masyarakat itu sendiri. Sekalipun, aktivis kadang mewawancarai salah seorang warga, celakanya kerap aktivis tersebut tidak menyebut nama dan umur narasumber (warga). Bahkan aktivis tersebut tak menceritakan di mana wawancara berlangsung dan bagaimana situasinya.
Inilah menjadi alasan perlunya seorang aktivis dibekali dengan pelatihan jurnalistik. Jurnalistik merupakan kegiatan menulis berita. Pelatihan jurnalistik diharapkan dapat mendorong aktvis agar mendalami persoalan-persoalan kehidupan basis secara mendalam. Aktivis juga diharapkan mampu menuliskan fakta-fakta realitas sosial menjadi berita.
Aktivis Ornop memiliki peluang cukup besar mengenali realitas sosial terutama di tingkat basis yang didampinginya. Penulis bangga bersahabat dengan para aktivis. Dalam berbagai tugas peliputan dari redaksi Media Indonesia penulis banyak dibantu aktivis-aktivis.
Data yang didapatkan aktivis digunakan penulis sebagai bahan berita. Pada bencana gempa dan tsunami di Nias misalnya, penulis banyak mendapatkan data tentang keadaan korban bencana yang tidak mendapatkan bantuan makanan dari aktivis KOTIB Sumut. Selain menjadi bahan tulisan, data itu dapat memberi inspirasi terhadap penulis untuk mengungkap seluk beluk persoalan bantuan.
Di sisi lain, kalau data-data aktivis saja digunakan tak cukup untuk dijadikan sebuah berita sekalipun untuk berita media internal. Pengalaman penulis ketika mau membuat bahan laporan aktivis KOTIB menjadi sebuah berita, ternyata laporan aktivis tersebut hanya dapat dijadikan bahan berita saja. Tak dapat dijadikan sebuah berita sekalipun untuk media internal. Jika dikomposisikan laporan itu tak mencapai 50% dari bahan untuk pembuatan berita.
Unsur apa yang diperlukan untuk melengkapi laporan itu agar dapat dijadikan berita? Sebenarnya inti persoalan terlihat dari data yang ada. Tapi untuk merangkai fakta menjadi sebuah berita diperlukan informasi tentang rekonstruksi sebuah peristiwa. Jika persoalannya banyak pengungsi tak mendapat bantuan di posko pengungsi Nias, aktivis perlu melaporkan realitas sosial akibat tak sampainya bantuan kepada para pengungsi.
Apa yang terjadi di pengungsian itu? Apakah ada anak menangis atau merengek akibat kelaparan? Berapa kali para pengungsi makan sehari? Dari mana pengungsi mendapat makanan? Pernahkah mereka memasak? Bagaimana kondisi mereka pada saat makan? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab dengan fakta. Fakta-fakta itu dapat dirangkai menjadi berita melengkapi laporan aktivis yang kerap hanya melaporkan tentang jumlah posko pengungsi yang tak mendapat bantuan.
Mengenali Realitas
Perlu kepekaan seorang aktivis atau jurnalis untuk mengenali realitas sosial. Bak sebuah kamera digital, sekalipun objek yang mau difoto cukup bagus pada kondisi cahaya yang cukup, tapi jika kemampuan (mega fixel) kamera itu rendah hasil gambar yang dihasilkan juga tidak bagus. Tapi jika kemampuan kameranya cukup tinggi, objek yang akan difoto dan cahaya kurang bagus, maka hasil gambar bisa diolah menjadi berkualitas. Begitu juga seorang aktivis, ketika kemampuannya memahami atau mengenali realitas sosial cukup bagus, maka fakta yang direkam dan dikumpulkannya akan lebih baik dan mendalam. Sebaliknya, jika aktivis tidak bisa mengenali realitas sosial, fakta yang dikumpulkan tidak berkualitas dan tak dapat dijadikan berita.
Persoalan kamera digital sedikit berbeda dengan seorang aktivis. Kualitas gambar juga ditentukan siapa yang menggunakan kamera itu. Persoalan berita juga ditentukan siapa editor yang merencanakan, memandu, dan mengolah data-data yang dilaporkan sang aktivis itu. Namun pada intinya, kualitas gambar sangat ditentukan kapasitas kamera, sama halnya kualitas berita/laporan sangat ditentukan oleh kemampuan aktivis itu sendiri.
Mengumpulkan dan Mengidentifikasi Fakta
Bagi aktivis yang mengerti tugas-tugas jurnalistik tak sulit bagi dia untuk mengumpulkan fakta dan mengidentifikasinya. Apalagi aktivis tersebut memiliki kemampuan mengenali realitas sosial. Seorang aktivis yang berada pada basis massa korban bencana perlu mengumpulkan fakta-fakta sebelum dan pasca bencana.
Fakta-fakta apa yang perlu didapatkan dan bagaimana mendapatkannya? Fakta yang perlu didapatkan adalah jumlah penduduk, kondisi sosial, ekonomi, dan politik sebelum bencana dan pasca bencana. Untuk mendapatkan fakta ini, aktivis harus melakukan riset dokumentasi antara lain mendapatkan data Badan Pusat Statistik (BPS), profil daerah, peta lokasi dan potensi daerah, melakukan pengamatan lapangan, dan wawancara kepada pihak-pihak yang mengetahui persoalan dan yang menjadi korban bencana tersebut.
Banyak aktivis Ornop khususnya yang tergolong pemula bertanya kepada penulis bagaimana teknik menulis. Mereka meminta penulis mengajarkan bagaimana membuat berita untuk media internal atau media meanstream. Penulis sering menjawab menulis berita tak mudah dan penulis sendiri tak pernah merasa sudah bisa menulis.
Menulis berita tak terlepas dari kegiatan mengungkapkan sebuah persoalan dalam bentuk berita. Menulis berita merupakan sebuah proses. Mulai dari proses apa yang akan ditulis. Apakah persoalan bantuan di pengungsian? Apakah persoalan mata pencaharian para pengungsi? Setelah tahu apa yang akan ditulis, aktivis harus mendalami persoalan itu. Aktivis harus mengenali fakta-fakta mana yang menjadi kepentingan publik dan perlu diungkap sehingga berpengaruh pada perubahan baik perubahan perspektif masyarakat atau perubahan kebijakan yang tak memihak menjadi memihak pada rakyat.
Jenis-Jenis Berita
TULISAN-tulisan yang dibahas dalam makalah ini yaitu tulisan-tulisan yang dimuat di media cetak yaitu surat kabar, tabloid, dan majalah. Ada beberapa jenis tulisan di media cetak antara lain berita langsung (hard news), berita kisah (feature), dan laporan mendalam atau investigasi.
Bagian-bagian tulisan berita pada media cetak pada umumnya hampir sama. Bedanya terletak pada gaya penulisan dan strukturnya yang sangat tergantung pada sasaran pembaca media cetak itu sendiri.
Bagian-bagian tulisan itu terdiri dari judul, Eye cather (ringkasan atau kutipan dari bagian tulisan yang menarik), by line (baris nama penulis), date line (baris tanggal), intro (lead atau teras berita), body (tubuh atau bagian isi tulisan), dan ending (penutup tulisan).
Bagian-bagian berita dalam bentuk penulisan secara ringkas sudah jelas. Yang menjadi pertanyaan apa itu berita? Tulisan yang bagaimana yang dikategorikan sebagai berita? Banyak jawaban tentang pertanyaan ini. Jawaban-jawaban itu berdatangan mulai dari kalangan akademisi dan praktisi pers.
Definisi berita ini berkembang terus sampai pada tahap batasan-batasan yang menyatakan berita adalah segala sesuatu yang suatu saat dipilih redaksi surat kabar karena penting atau signifikan bagi pembacanya, atau karena ia dapat dibuat penting atau signifikan bagi pembaca itu. Bahkan ada juga yang menyatakan berita ialah apa yang dinyatakan editor sebagai berita. Melihat perkembangan teknologi informasi sekarang ini kita bisa memberi kesimpulan berita ialah apa yang dimuat di media cetak atau disiarkan di radio dan atau televisi, atau di-posting di situs berita internet atau media elektronik.
Yang perlu dipertegas kembali ialah apa (sesuatu) yang mungkin dimuat di media cetak, disiarkan di radio/televisi atau di-posting di situs internet. Beranjak dari pertanyaan itu kita bisa memerhatikan berbagai jenis berita untuk lebih memahami apa itu berita.
Berita Langsung (Hard News)
Berita langsung sangat terkait dengan aktualitas dan perlu segera sampai kepada pembaca. Berita langsung memiliki unsur apa, siapa, mengapa, di mana, bilamana, dan bagaimana.
Berita langsung ialah berita yang biasanya informatif. Berita ini menyampaikan kejadian-kejadian yang perlu cepat sampai kepada pembaca. Disebut berita langsung karena unsur-unsur terpenting berita itu harus langsung disampaikan kepada pembaca.
Berita langsung ada juga yang disebut spot news, wartawan berada pada lokasi kejadian dan melaporkan kejadian itu kepada pembaca. Ketika wartawan tak berada di lokasi kejadian, wartawan tersebut harus meminjam persepsi orang lain terhadap kejadian tersebut. Melalui persepsi orang yang diwawancarai, wartawan menyusun kembali (merekonstruksi) kejadian dalam bentuk tulisan yang akan dijadikan berita.
Berita langsung diartikan sebagai hard news karena berita ini memuat fakta keras. Fakta keras yang dimaksud ialah fakta yang segera dapat diukur berdasarkan persepsi indrawi manusia.
Berita langsung mengutamakan aktualitas. Peristiwa yang baru saja terjadi akan menjadi bahan utama untuk berita langsung. Sedangkan peristiwa yang sudah lama terjadi tidak bernilai untuk dijadikan sebagai berita langsung.
Aktualitas peristiwa tergantung pada frekuensi media cetak itu terbit. Untuk koran harian, peristiwa itu dinyatakan aktual kalau kejadiannya kemarin. Sedangkan untuk radio, televisi, dan situs berita, peristiwa itu dinyatakan aktual kalau berita itu terjadi pada hari ini.
Bahan untuk berita langsung ialah peristiwa atau informasi penting yang menarik untuk diketahui masyarakat luas. Peristiwa yang dapat dijadikan berita langsung antara lain peristiwa kecelakaan lalu lintas, demonstrasi, bencana alam, penangkapan penjahat, putusan pengadilan, kebijakan/regulasi pemerintahan, wabah penyakit, dan fenomena alam seperti kekeringan.
Sedangkan informasi yang dapat dijadikan berita langsung ialah fakta sebagai jawaban dari pertanyaan (5W + 1 H), keterangan, pernyataan, pendapat sumber, dan identitas sumber. Wartawan tak memasukkan pendapat peribadi, keterangan tak benarm informasi tak bersumber jelas, atau desas-desus.
Bagaimana menuliskan berita langsung?
Penulisan berita diawali dengan menulis lead (intro atau teras berita). Itu kalimat atau alinea pertama berita. Pada lead langsung menekankan pada fakta penting dan baru. Pada lead ini empat pertanyaan dasar yaitu apa, di mana, bilamana, dan siapa sudah terjawab.
Kita kerap menghadapi persoalan yaitu 1) sudut pandang (angle), 2) fakta tak lengkap. 3) kalimat panjang, dan 4) kalimat sulit dipahami karena tak logis. Untuk mengatasinya dengan memakai pedoman ABC (accurate (tepat dan benar), brief (singkat), clear (jelas), complete (lengkap).
Jenis teras berita antara lain:
1. What lead. Peristiwa yang terjadi lebih menarik perhatian pembaca ketimbang orang yang berperan di dalam peristiwa itu. “Demonstrasi peringatan hari buruh di Indonesia, Senin (1/5), mengakibatkan kerugian sekitar Rp680 miliar. Kerugian itu akibat potensi penerimaan dan proses produksi perusahaan secara nasional terhenti selama sehari.” Judul Kerugian Akibat Demo Buruh Rp680 Miliar, Suara Pembaruan (2/5/2006).
2. Who lead. Orang yang ditonjolkan adalah orang yang terkenal. “Presiden didesak memberhentikan Maftuh Basyuni sebagai Menteri Agama. Maftuh dinilai lalai dalam kasus katering haji.” Judul Copot Maftuh Basyuni, Media Indonesia (6/1).
3. When lead. Waktu selalu muncul dalam berita langsung. Ada kalanya waktu ditonjolkan dengan alasan tertentu. Lead ini lebih menonjolkan kapan suatu peristiwa itu akan terjadi. “JAKARTA (Media): Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memprakirakan pada 6 sampai 12 Januari sejumlah wilayah perairan masih akan mengalami gelombang tinggi.” Judul: Fenomena Alam, Gelombang Tinggi masih akan Terjadi (Media Indonesia, 6/1).
4. Where lead. Lead ini menonjolkan tempat yang terkenal atau bermakna penting bagi pembaca.
“Sebanyak 4.863 warga korban gempa di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, masih tinggal di tenda-tenda pengungsian. Mereka bertahan di tenda pengungsian karena rumah mereka rusak berat.” Judul Ribuan Warga Masih Tinggal di Pengungsian.” Media Indonesia (Kamis, 29/3).
5. Why lead. Lead ini lebih menonjolkan alasan atau sebab terjadinya suatu peristiwa. Jenis lead ini jarang dipakai untuk berita langsung.
6. How lead. Lead ini lebih menonjolkan bagaimana suatu peristiwa itu (akan) terjadi. Lead ini jarang digunakan pada berita langsung.
Contoh berita dibawah ini laporan penulis dimuat di Media Indonesia. Apa? Bantuan kemanusiaan, Siapa? pengungsi korban bencana, Mengapa? Bantuan menumpuk di posko; pengungsi korban bencana kelaparan; Di mana? Di Gunungsitoli, Nias; Bilamana? Kemarin (karena tanggal penerbitan surat kabar itu Rabu 06 April 2005, berarti peristiwa itu sehari sebelumnya yakni Selasa 05 April 2005).
Media Indonesia, Rabu 06 April 2005
Bantuan Untuk Nias Hanya Menumpuk di Posko
GUNUNG SITOLI (Media): Bantuan kemanusiaan untuk korban bencana alam gempa Nias masih menumpuk di Gunung Sitoli, Nias, dan Sibolga, Sumatra Utara. Warga yang kelaparan di berbagai desa mulai frustrasi dan berbondong-bondong ke posko meminta bantuan makanan.
Pendopo Bupati Nias di Gunung Sitoli terus dibanjiri warga dari berbagai desa kemarin. Wajah-wajah lesu dan pakaian lusuh begitu mewarnai kompleks pendopo itu. “Sejak bencana melanda negeri ini, kami baru dua kali makan dengan nasi. Selebihnya kami terpaksa memakan umbian dan daun-daun,” kata Nalo Lese, warga Desa Hili Gadu, Kecamatan Gunung Sitoli.
Rekannya, Pati Narepa, mengatakan banyak warga di kampungnya yang mulai kelaparan. Satu-satunya jalan, ujarnya, pergi ke kota untuk meminta bantuan ke posko-posko penanganan bencana.
Bupati Nias Binahati Bahea juga mengatakan kelaparan yang menimpa warganya bukan karena tidak ada persediaan bantuan pangan, tetapi hambatan proses pengiriman. “Desa-desa itu terisolasi karena poros jalan dan jembatan terputus. Satu-satunya penyaluran bantuan yang lebih cepat menggunakan helikopter, yang memerlukan biaya tinggi,” kata Binahati di Gunung Sitoli.
Pengangkutan bantuan, tambahnya, tidak mungkin dilakukan lewat laut karena harus memasuki wilayah darat dengan menempuh ruas jalan dan jembatan yang kini banyak tak dapat dilewati kendaraan. Barang bantuan juga menumpuk di Pelabuhan Sibolga. Jalur angkutan laut Sibolga-Gunung Sitoli dengan kapal tidak teratur karena maraknya praktik percaloan yang memanfaatkan situasi.
“Kondisi yang tidak kooperatif ini mengakibatkan pengangkutan bantuan dari Sibolga ke Gunung Sitoli lamban,” kata Dina Kartikasari, aktivis koalisi sejumlah LSM, kepada Media di Gunung Sitoli, kemarin.
Menurutnya, petugas pelabuhan dan kapal mengenakan tarif lebih mahal dari biasanya. Bahkan, pihak pelabuhan menetapkan tarif untuk satu truk yang membawa bantuan sebesar Rp1,5 juta. Itu pun belum ada jaminan akan segera mendapat kapal.
Mahalnya tarif angkutan kapal tersebut juga dirasakan Gema Nusa Jakarta dan DPUDT (Dompet Peduli Umat Daarut Tauhiid) Bandung. “Kami mengalami kesulitan mengangkut bantuan berupa sembako, obat-obatan, alat berat, genset, dan pompa air dari Sibolga ke Gunung Sitoli. Sulit mendapatkan kapal meski tarifnya cukup mahal,” kata Koordinator Gema Nusa-DPUDT Arlen Ara Guci.
Sekolah mulai
Di Gunung Sitoli, kegiatan belajar mengajar kemarin mulai berlangsung. Namun, sebagian besar siswa belajar di tenda-tenda karena sekitar 90% gedung sekolah di daerah itu hancur akibat gempa. Kegiatan belajar juga belum dapat dilakukan sepenuhnya karena banyak guru dan siswa yang turut eksodus ke Sibolga akibat isu akan ada tsunami.
Eksodus juga dilakukan warga pesisir di Aceh Singkil dan Padang, Sumatra Barat. Sebanyak 1.572 warga Kuala Baru, Aceh Singkil, dilaporkan telah melarikan diri ke hutan berbukit karena isu tsunami. Arus pengungsi dari sejumlah kawasan pantai barat di Sumatra Barat juga terus meningkat karena isu yang sama. (KN/Ant/X-7)
Feature (Berita Kisah)
Feature memiliki sifat faktual. Feature merupakan tulisan yang berdasarkan fakta. Tulisan ini menerangkan realitas sosial dengan cara bercerita. Feature di bawah ini menggambarkan korban bencana tsunami di Nias. Feature ini sengaja ditulis dengan memuat posisi lokasi bencana dan bagaimana kondisi menempuhnya. Alasanya, agar daerah ini menjadi perhatian dan jika ada yang ingin menempuhnya bisa membuat cara yang tepat agar tak terkendala dalam perjalanan.
Media Indonesia, 30 Desember 2004
Pengungsi Menanti Penyembuhan
SISARAHILI, perkampungan yang berada di sebelah barat Pulau Nias, berjarak 90 kilometer dari Gunung Sitoli, ibu kota Kabupaten Nias, Sumatra Utara (Sumut), kondisi jalannya rusak parah akibat diterjang gempa dan tsunami, Minggu (26/12).
Untuk menempuh ke daerah itu, butuh waktu delapan jam perjalanan pulang-pergi dengan menggunakan kendaraan sejenis jip. Di sepanjang jalan atau 30 km sebelum tiba di lokasi tampak bendera setengah tiang terpancang di depan rumah masing-masing penduduk. Bendera itu dinaikkan setengah tiang selama tiga hari sejak Selasa (28/12) pertanda penduduk menangis dan berkabung atas bencana tsunami yang menimpa Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumut.
Desa Sisarahili, Kecamatan Mandrehe merupakan daerah yang paling parah ditimpa bencana gempa dan tsunami di Kabupaten Nias. Di sepanjang jalan, terdengar jeritan dan isak tangis. Mereka menangisi kepergian keluarganya yang meninggal atau hilang dalam bencana itu.
Mereka tampak frustrasi, karena sebagian di antara mereka kehilangan ayah, ibu, anak, suami, istri atau sanak keluarga yang lain. Ada pula yang sampai saat ini masih menunggu kabar keluarganya yang hilang. Di antara mereka ada yang turut mencari korban ke lokasi kejadian bersama petugas Satuan Pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana dan Pengungsian (PBP) Kabupaten Nias.
Keluarga korban yang ikut ke lokasi menjerit-jerit dan menangis sambil memanggil nama korban. ”Ina (Ibu)… Ina,” panggil seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya di lokasi pencarian korban.
Sebagian lagi pasrah menunggu di tempat pengungsian di Gereja Orahua Niha Keriso Protestan (ONKP). Hampir sebagian besar pengungsi itu mengalami gangguan psikologis dan trauma. Mereka juga menderita berbagai penyakit seperti demam, diare, batuk, dan flu.
Di posko inilah para pengungsi itu menunggu kabar keluarga mereka. Menurut catatan petugas posko masih ada 58 orang lagi yang hilang.
Kecemasan dan trauma membuat ratusan pengungsi di Posko ini tidak selera makan. Itulah yang dirasakan Miha, 45, salah seorang pengungsi yang kehilangan tiga anaknya. Seorang di antaranya belum ditemukan jenazahnya. “Saya juga kehilangan dua orang keponakan yang selama ini tinggal bersamaku,” kata ibu empat anak yang sudah lama ditinggal sang suami sambil menggendong bocah lelaki, satu-satunya yang selamat dari bencana.
Ia terlihat lesu dan sebentar-sebentar menangis. Perempuan berbadan kurus itu bingung. Ia ingin ikut mencari anak dan keponakannya, namun ia tak berdaya dan butuh perawatan. “Saya tidak selera makan,” katanya ketika pengungsi lainnya menyuguhkan sepiring nasi bercampur mi instan.
Kondisi Miha sangat memprihatinkan, ia butuh perawatan dan bantuan psikologis. Namun, sayangnya obat-obatan maupun tenaga psikologis tidak ada. “Mereka memang belum mendapatkan obat, karena persediaan obat habis,” kata seorang petugas kesehatan.
Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya dokter umum yang bertugas di posko tersebut. Sedih dan sakit itu yang mereka rasakan. Mereka kini menunggu penghiburan dari kaum rohaniwan. “Kami akan memberi siraman rohani segera. Selain itu kami juga menyediakan bantuan berupa uang, pakaian, dan makanan,” kata Matheus, seorang pastor bule yang bertugas di Gereja Katolik Salib Suci di Sisarahili.
Para pengungsi yang rawan serangan penyakit ini membutuhkan uluran tangan. Mereka membutuhkan makanan, pakaian, obat-obatan, serta tempat tinggal. (Kennorton Hutasoit/N-3)
Bahan Bacaan
Ashadi Siregar, dkk. Bagaimana Meliput dan Menulis Berita untuk Media Massa, LP3Y, Yogyakarta, 1998.
Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Elemen-elemen Jurnalisme. Terjemahan. ISAI, Jakarta, 2004.
Dewabrata A.M. Kalimat Jurnalistik, Panduan Mencermati Penulisan Berita. Kompas, Jakarta, 2004.
Luwi Ishwara. Seri Jurnalistik Kompas, Catatan-catatan Jurnalisme Dasar, Kompas, Jakarta 2005.
Maskun Iskandar dan Atmakusumah. Panduan Jurnalistik Praktis, Mendalami Penulisan Berita dan Feature, Memahami Etika dan Hukum Pers, LPDS, Jakarta, 2004.
Septiawan Santana. Jurnalisme Investigasi. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2002.
Umar Nurzain. Penulisan Feature. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1993.
Valerie Miller dan Jane Covey. Pedoman Advokasi, Perencanaan, Tindakan, dan Refleksi. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 2005.