Mengendus Penyelewengan Elpiji
TERIK matahari menambah kegerahan Natalina, 31, ketika mencari liquified petroleum gas (elpiji) untuk keperluan rumah tangga. Ia baru mendapatkan elpiji setelah mendatangi tiga kios pengecer di sekitar Perumnas Helvetia Medan.
Selain sulit mendapatkannya, Natalina juga mengeluhkan harga elpiji yang naik dari Rp52 ribu menjadi Rp65 ribu per tabung berisi 12 kg. Menurutnya, kenaikan harga itu terjadi sejak dua bulan terakhir.
“Kalau dihitung harga elpiji dan ongkos naik becak motor untuk mendapatkannya hingga berkeliling ke tiga bahkan empat tempat pengecer, harga per tabung bisa menjadi Rp70 ribu,” kata ibu rumah tangga anak satu itu kepada Media Indonesia di Medan , Sabtu, pekan lalu.
Kelangkaan elpiji ini juga dikeluhkan pihak distributor. D Manurung, distributor elpiji di Medan kesulitan mendapatkan elpiji sejak dua bulan terakhir. “Penjualan kami menurun dari 300 tabung menjadi seratusan tabung per bulan, karena tak ada barang (elpiji). Kalau kami tanya ke agen, mereka bilang persediaan elpiji di SPPBE nggak ada,” kata Manurung.
Berdasarkan catatan Pertamina Unit Pemasaran (UPms) I Medan jumlah pasokan elpiji ke stasiun pengisian pengangkutan bulk elpiji (SPPBE) setiap bulan tidak ada pengurangan. Namun sejumlah SPPBE di Medan sudah kehabisan persediaan beberapa hari sebelum akhir bulan. Contohnya, SPPBE Jl Bunga Sakura, Tanjung Selamat Medan sudah kehabisan persediaan empat hari sebelum akhir bulan sejak dua bulan terakhir. “Selama dua bulan terakhir ini, jatah elpiji kami sudah habis terjual pada awal minggu keempat. Kadang kekosongan bisa sampai empat hari setiap bulan,” kata seorang pekerja SPPBE itu.
Pelaksana Kepala Humas PT Pertamina UPms I Medan Fitri Erika mengatakan pasokan gas elpiji normal. “Terjadinya kehabisan persediaan di titik pengecer itu kemungkinan diakibatkan terjadinya peningkatan permintaan gas elpiji sekitar 15 persen di Sumut,” katanya kepada Media Indonesia di Medan , beberapa waktu lalu.
Kebutuhan elpiji Sumut saat ini sekitar 150 metric ton per hari. Kebutuhan itu dapat dipenuhi dari pasokan gas Maruta Pangkalan Susu dan pasokan Dumai.
UPms I Medan mencatat tabung elpiji yang beredar di Sumut saat ini sebanyak 520 ribu berkapasitas 12 kg, 15 ribu berkapasitas 50 kg, dan 2.400 berkapasitas 6 kg. “Dengan adanya pertambahan permintaan gas sekitar 15 persen, tentu jumlah tabung ini akan kurang. Bukan berarti pasokan gas elpiji yang kurang,” katanya.
Penyelewengan
Kelangkaan elpiji di Sumut itu kemungkinan diakibatkan penyelewengan elpiji rumah tangga ke industri. Penyelewengan itu sangat mungkin terjadi karena adanya disparitas harga antara elpiji rumah tangga yaitu Rp5.250 per kg dan elpiji industri Rp5.852 per kg.
Bahkan tak tertutup kemungkinan akibat ulah ‘mafia’ yang menyelundupkannya ke Singapura melalui Batam. Modusnya, tabung kosong didatangkan dari Singapura lalu diisi di Batam. Kemudian tabung tersebut dibawa ke Singapura dalam keadaan penuh.
Manajer Penjualan PT Pertamina UPms I Medan Mochamad Chabib mengatakan pihaknya menemukan tiap bulan ribuan tabung elpiji kosong buatan Singapura beredar di Batam. “Sampai saat ini tabung elpiji palsu itu baru kami temukan di Batam, namun tak tertutup kemungkinan itu beredar di Sumut,” kata Chabib pada acara orientasi wartawan migas di Berastagi, Kamis pekan lalu.
Praktik pemindahan (pompa) dari tabung elpiji yang satu ke tabung lain begitu gampang dilakukan dengan menggunakan alat sederhana. “Alat pompa itu banyak dijual di Singapura dan harganya relatif murah. Praktik ini bisa saja terjadi di rumah-rumah atau lokasi tersembunyi yang belum terpantau hingga saat ini,” kata Chabib.
Selama ini UPms I Medan melakukan pemeriksaan di SPPBE, agen-agen, dan pengecer. Kalau tabung elpiji palsu ditemukan, pihak Pertamina langsung menyitanya. Namun, ‘mafia’ bisa saja mengecoh Pertamina dengan cara membeli elpiji pertamina lalu memindahkannya ke tabung palsu. Tabung palsu itu langsung dijual ke masyarakat atau dikirim langsung ke Singapura, sehingga tabung itu tak pernah masuk ke SPPBE.
Chabib mengharapkan semua pihak agar turut memantau peredaran tabung elpiji palsu. Ciri-ciri tabung palsu antara lain kalau diraba terasa kasar, tabung tersebut bukan buatan Pertamina, dan masa pembuatannya di atas lima tahun. “Kalau di Batam, tabung elpiji yang banyak beredar buatan Thailand atau Singapura dengan ukuran berkapasitas 12 kg dan 14 kg,” katanya.**
apa nih berita?
kennortonhs
Mei 8, 2007