You are currently browsing the daily archive for Mei 7th, 2007.

MEDAN (kennorton): Rapat DPRD Medan membahas kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak buruh PT Soechi Medan, kemarin ricuh. Kericuhan ‘perang’ mulut itu dipicu sikap Joni Sibuea selaku perwakilan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) yang selalu menyanggah setiap pernyataan anggota DPRD dengan sinis.

Rapat yang dipimpin Ketua Komisi B DPRD Medan dari Fraksi PKS Jamhur Abdullah dimulai sekitar pukul 11.00 Wib di ruang rapat anggaran. Hadir dalam pertemuan itu antara lain 12 orang buruh PT Soechi yang dipecat sepihak, Joni selaku Kepala Seksi Persyaratan Kerja dan Mediator, dan para Anggota Komisi B DPRD Medan. Namun pihak PT Soechi tak hadir dalam pertemuan itu.

Anggota Komisi B DPRD Medan terlebih dahulu memberi kesempatan kepada Joni sebagai mediator penanganan perselisihan antara buruh dan PT Soechi. Hampir seluruh pernyataan Joni menyalahkan pihak buruh. Ia tidak memberi kesempatan kepada pihak DPRD Medan dan buruh menyanggah pernyataannya.

Tiba gilirannya Anggota DPRD bertanya tentang kronologis PHK buruh PT Soechi, Joni malah menjawab yang tak ditanyakan. Joni juga selalu menyanggah pertanyaan DPRD dengan sinis sambil senyum, sekalipun pertanyaan itu belum selesai.
Sikap Joni membuat para Anggota DPRD tak senang. Menyikapi hal itu, Anggota Komisi B DPRD Gusman Effendi dari Fraksi PPP meminta agar Joni bersikap sopan. Tapi, Joni balik menantang. “Kalau DPRD apa sudah hebat. Jangan macam-macam lah. Saya pun hebatnya ini,” kata Joni. Akhirnya rapat dihentikan karena suasana semakin tegang.
Gusman Effendi menilai sikap Disnaker telah melecehkan DPRD Medan. “Kami akan memanggil langsung Kepala Disnaker Medan untuk menjelaskan persoalan ini, karena anggotanya telah melecehkan DPRD Medan. Joni juga harus diperiksa berkaitan dengan kasus PHK sepihak ini. Jangan-jangan Joni menerima sesuatu dari pihak PT Soechi,” kata Gusman dengan nada curiga.
Charles Nababan selaku Ketua Serikat Pekerja Mandiri PT Soechi mengatakan pemecatan sepihak itu karena buruh membentuk serikat buruh. “Pihak PT Soechi mencari-cari alasan untuk memecat setiap buruh yang bergabung membentuk serikat pekerja. Buruh yang dipecat sebanyak 13 orang. Satu di antaranya dituduhkan kasus pelecehan. Selebihnya kasus meninggalkan pekerjaan saat jam kerja dan pemutasian tak wajar. Kami melihat ini sengaja direkayasa agar semua buruh yang bergabung dalam serikat buruh keluar dari perusahaan itu,” kata Charles.

Para buruh resmi membentuk SPM PT Soechi pada Agustus 2006 lalu. Sejak itu pihak PT Soechi melakukan penekanan-penekanan terhadap buruh yang bergabung dengan serikat tersebut antara lain pemutasian tak wajar dan tuduhan pelecehan seksual. Pada Februari 2007 lalu pihak PT Soechi memecat sepihak 13 buruh tanpa pesangon. Pemecatan itu juga tak sesuai mekanisme yang mengacu pada UU No.21 Tahun 2000 tentang Ketenagakerjaan.**

KRONOLOGIS ZIARAH PANITIA PERINGATAN 100 TAHUN
KE BAKKARA DAN SOPOSURUNG

1. Sekitar pukul 00.00 WIB pada 27 April 2007 empat mobil kijang menjadi kenderaan menuju Bakkara dan Soposurung. Ada 14 orang dari kepanitiaan yang ikut dan berangkat dari Medan pagi hari itu dan di Siantar naik 1 orang menjelang pukul 03.00 WIB. Di antaranya sudah termasuk Raja Tonggo Tua Sinambela (sang cicit Raja Sisingamangaraja XII), Wilson Silaen (Wakil Ketua II), Denny Samosir (Sekretaris Umum), dr. Jhon Robert Simanjuntak (Wakil Ketua III), Miduk Hutabarat (Tapak Tilas), Stephanus (Bidang Dana/Sponsorship), Arius Simanjuntak (Sekretariat), Robin Tarihoran (Wakil Bendahara I), Partahi Hutagaol (Bidang Acara/Malam Pesona Budaya), Thompson Hs (Bidang Acara/Opera Batak), Mark Rehner (peneliti dari Virginia AS), Desmon Silitonga, ST (Sekretaris III)dan lain-lain. Sebelum ke Balige menjemput Tumpal Sitorus (Ketua Umum) sekitar satu jam berhenti di Panatapan Parapat sekaligus untuk menikmati kopi sambil memandang ke arah Danau Toba.

2. Sekitar Pukul 05.00 WIB rombongan panitia tiba di Balige dan langsung menuju rumah dinas Ketua DPRD Tobasa di bebukitan Soposurung. Sambutan Tumpal Sitorus pagi hari itu dilengkapi dengan suguhan minuman dan sarapan pagi sampai sekitar pukul 08.00. Sambil mempersiapkan kebutuhan menuju Bakkara, rombongan ditambah dengan tim Tobasa dua mobil. Masing-masing yang mendapatkan model pin dan T-shirt Peringatan 100 Tahun semakin bertambah. Rombongan mencapai 21 orang, di antaranya 2 wartawan lokal. Rombongan dipandu mobil yang bertanda bendera Sisingamangaraja.

3. Melewati Siborong-borong dan Doloksanggul, rombongan tiba di Bakkara sekitar pukul 10.00 WIB. Perjalanan dari Balige ke Bakkara ada 1,5 jam dan berjalan lancar dengan cuaca cerah. Tujuan pertama di Bakkara adalah menziarahi bekas Istana Kerajaan Sisingamangaraja di Lumbanraja. Sebelum memasuki bagian inti istana semua mobil diparkirkan di pelataran yang sudah dibangun oleh Pemkab Humbahas beberapa bulan lalu. Di bekas istana yang belum rampung-rampung pemugarannya itu masih berdiam beberapa keturunan Raja Sisingamangaraja. Merekalah yang menyambut rombongan dan mendaulat rencana panitia untuk menziarahi tempat-tempat lain yang terkait dengan Raja Sisingamangaraja. Sebelum menghadap bersama ke pusara Raja Sisingamangaraja XI yang terletak di inti istana itu kehadiran rombongan panitia disambut di rumah Raja Gomal Sinambela (almarhum). Sambutan tersebut dilakukan setelah rombongan tim Toba Sahuta Deliserdang melakukan prosesi parpangiron. Selain ke istana rombongan selanjutnya menuju situs Aek Sipangolu yang terletak ke arah jalan Muara. Biografi tempat yang sudah dijadikan salah satu tujuan wisata di Bakkara itu terkait dengan gajah tunggangan Raja Sisingamangaraja. Mata air bermineral di situs itu adalah bekas injakan kaki gajah tunggangan sang raja.

4. Rombongan kemudian menuju hutan Sulusulu setelah merasakan kesegaran dari pancuran Aek Sipangolu. Hutan Sulusulu adalah kiblat kerajaan karena di sanalah terdapat gua yang dikelilingi kayu sangkar madeha, spesis kayu yang jarang ditemukan di wilayah manapun di Tanah Batak. Di Gua Sulusulu itulah cikal bakal inkarnasi Raja Manghuntal, gelar untuk Sisingamangaraja I. Konon sang ibu Boru Pasaribu mendapat kunjungan Batara Guru, salah satu dewa dalam mitologi Batak. Di dalam gua itu suasana segar sangat terasa dan dapat dimasuki 4 -5 orang. Secara bergantian rombongan masuk ke dalam gua sambil berusaha berpose. Hampir satu jam menikmati suasana di sekitar gua, persiapan untuk meninggalkan Bakkara dilengkapi dengan mengambil beberapa objek seperti jalan di bebukitan ke arah Doloksanggul serta pemandangan lembah Bakkara yang dibelah sungai yang bermuara di Danau Toba. Sungai yang membelah Bakkara menjadi batas kampung dua induk marga. Bagian di sebelah Lumbanraja adalah kampung induk marga Siraja Oloan dan bagian yang terdapat hutan Sulu-sulu adalah kampung induk marga Marbun. Sinambela sebagai marga yang diemban Raja Sisingamangaraja adalah salah satu anak dari Siraja Oloan.

5. Rasa lapar dipuaskan di Doloksanggul dengan salah satu variasi lauknya daging kuda. Doloksanggul memang terkenal dengan masakan daging kudanya. Setelah bersantap itu rombongan panitia menuju makam Raja Sisingamangaraja XII di Soposurung. Waktu sudah mulai menjelang malam di Soposurung. Salah seorang keturunan Raja Sisingamangaraja XII mendampingi rombongan menghadap bagian inti makam. Ada dua tambak di makam Soposurung. Tambak pertama dan menjadi inti tertanda untuk Raja Sisingamangaraja XII dan dua orang putranya yang gugur pada 17 Juni 1907. Kedua putranya itu adalah Patuan Nagari dan Patuan Anggi. Sedangkan tambak kedua di belakang makam pertama menjadi tanda untuk beberapa keturunan dan menantu yang ikut sebagian pada masa gerilya, termasuk Raja Karel Buntal dan Patuan Sori, kakek dan ayah Raja Tonggo Tua Sinambela.

6. Selesai ziarah ke makam itu, tujuan terakhir adalah Bale Pasogit Parmalim di Hutatinggi Laguboti. Tempat tersebut adalah pusat spiritual pengikut Sisingamangaraja setelah terorganisir kemudian oleh Raja Mulia Naipospos, seorang bekas parbaringin (pemimpin upacara ritual kuno Batak). Di Hutatinggi rombongan disambut oleh menantu Raja Mulia dan beberapa penganut Parmalim dan hampir satu jam bercengkerama di rumahnya. Kehadiran Raja Tonggo Tua bersama rombongan panitia dianggap mengobati sebagian rindu ibu tua dan pengikut di situ karena faktor ketaatan.

7. Sekitar pukul 21.00 WIB rombongan yang berangkat dari Medan kembali menuju Medan setelah rehat dan evaluasi beberapa saat di rumah ketua umum. Segala tujuan mulai tercapai untuk menguatkan segala rencana program yang sudah sekian minggu digodok di sekretariat panitia di Jalan Sisingamangaraja No. 132 A Medan. Rencana program panitia menjelang Peringatan 100 Tahun Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII pada 17 Juni mendatang sudah diurai dengan berbagai agenda seperti Malam Budaya (24 Mei 2007), Seminar (26 Mei 2007), Napak Tilas, Penghijauan, dan Pentas Keliling Opera Batak yang berjudul Srikandi Boru Lopian (5 – 16 Juni 2007) ke 9 kabupaten, Malam Renungan atau Taptu (16 Juni 2007) serta mengikuti Upacara Nasional di Makam Soposurung (17 Juni 2007). (Tomson HS)

Blog Stats

  • 37,033 hits

a